Esaiti sebagai Bentuk

“Kita ditakdirkan melihat yang tercerahkan, bukan cahaya.”– Goethe, Pandora

Sebagai bentuk tulisan yang tak memiliki akar; bahwa esai tak memiliki standar tradisi yang kuat; bahwa batasan-batasannya yang begitu berat susah terpenuhi: kesemua ini terus diperdebatkan dan dikecam “Bentuk esai, hingga hari ini, belum menempuh jalan panjang menuju pembebasan.”

Terlepas dari ketajaman pandangan Simmel dan Lucacs muda, Kassner serta Benjamin yang masih mempercayai esai sebagai penyelidikan spekulatif terhadap hal-hal yang spesifik pada objek-objek yang terikat secara kultural. Esai, bagaimanapun, tak menghendaki wewenangnya digariskan. Daripada mendedah secara ilmiah, atau menciptakan sesuatu yang artisitik, esai terus merefleksikan kebebasan polos seorang bocah yang terkurung dalam kobaran api tanpa peduli terhadap pencapaian orang lain.

Esai adalah cermin yang memantulkan segala yang dicinta dan dibenci, bukan merepresentasikan kecerdasan layaknya create ex nihilio —Esai membincangkan suatu pokok masalah dan akan berhenti setelah menganggapnya tuntas— bukan karena tidak ada lagi yang tersisa untuk dikatakan. Konsep dari esai bukan turunan dari asas manapun, tidak juga hadir sebagai lingkaran utuh lantas berakhir dan tiba pada asas yang final.

Penafisirannya secara filologis tidak kaku, tidak pula bijaksana, lebih tepatnya—berdasarkan pandangan yang sudah diprediksi dari pemikiran yang secara hati-hati menempatkan dirinya berada di luar kebodohan.

Segala hal bagi esai sejatinya sederhana. Sayangnya, para penafsir bukannya menerima dan menganggap setiap hal tak perlu dipertanyakan lagi, justru membebaninya dengan beban intelektual seolah-olah hendak memaksakan sebuah bintang kuning, kecerdasannya yang hendak menyiasati dan merancang suatu makna pada apa yang tak perlu lagi ditafisrkan.

Begitu seseorang yang membiarkan dirinya diteror oleh larangan untuk tidak melampaui makna yang dimaksudkan dari teks tertentu, ia telah dengan sengaja menipu dirinya. Memahami, dengan demikian adalah menyibak apa yang ingin dikatakan penulis atau jika diperlukan, melacak reaksi psikologis sesuai isyarat fenomena.

Esai, dengan demikian, memperoleh kebebasan estetis yang secara serampangan dikecam lantaran meminjamnya dari seni, meski esai membedakan dirinya dengan pendirian bahwa tak mungkin membicarakan estetika dengan cara yang tidak estetis.

ESAITI.SCIENCE
Dikonstruksi oleh F. Noor