“C’est le ton qui fait la musique: Bukan apa yang engkau katakan, namun bagaimana engkau mengatakannya.” – Faiz, Ihwal Sesat Pikir
Perhatikan dua kalimat berikut:
“Hey, air minumnya habis!”
“Akan sangat nyaman kalau air minumnya ditambah lagi.”
Kedua kalimat itu menyampaikan informasi yang sama. Namun, cara penerima meresponsnya bisa berbeda. Perbedaannya tidak terletak pada fakta, melainkan pada cara fakta tersebut disampaikan. Kalau satu pesan disampaikan dengan beberapa cara dalam dunia psikologi, teknik ini dikenal sebagai framing.
Kita bereaksi secara berbeda terhadap situasi yang sama tergantung bagaimana situasi tersebut tampil. Cara suatu peristiwa dituturkan kerap lebih menentukan dibanding peristiwa itu sendiri. Manusia tidak hidup di dalam realitas yang polos, melainkan terhadap makna yang dilekatkan pada peristiwa tersebut. Bahasa, dalam pengertian ini, bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga proses produksi makna.
Eksperimen klasik Daniel Kahneman dan Amos Tversky pada dekade 1980-an menunjukkan hal itu dengan gamblang. Dalam sebuah skenario tentang wabah yang mengancam 600 nyawa, responden diminta memilih antara dua opsi kebijakan.
Pilihan A: membiarkan meninggal 400 orang.
Pilihan B menawarkan 33% kesempatan 600 orang bisa diselamatkan, namun sisanya tidak selamat.
Hasilnya, ketika opsi disajikan sebagai peluang penyelamatan—gain frame—mayoritas memilih kepastian menyelamatkan 200 orang ketimbang memilih risiko. Namun ketika opsi yang sama dibingkai sebagai kemungkinan kematian—loss frame—pilihan mayoritas justru beralih pada spekulasi yang berisiko. Eksperimen ini membuka satu kesimpulan penting: rasionalitas manusia bukanlah entitas murni yang steril dari bahasa. Cara kita berpikir selalu sudah dipengaruhi oleh cara dunia disusun dalam kata-kata. Cara kita menimbang risiko, menilai kebijakan, atau memahami peristiwa sosial selalu dipengaruhi oleh bagaimana realitas itu dibingkai.
Kesadaran akan framing mulai menguat seiring munculnya era media massa 1970-an. Setelah audiensi terpapar dengan aliran informasi yang terus menerus, tampak jelas bahwa media bukan hanya memengaruhi audiensi, tetapi juga menciptakan medan pertarungan makna.
Seperti dikatakan Benjamin Cohen, meski media tidak terlalu efektif dalam memberitahukan apa yang kita pikirkan, namun cukup mangkus dalam memengaruhi apa yang seharusnya dipikirkan. Di titik inilah framing menjelma menjadi persoalan etis dan politis. Media bukan sekadar cermin realitas, melainkan juga bengkel makna—tempat realitas dirakit, dipilah, dan diberi penekanan tertentu. Apa yang perlu disorot menjadi penting; apa yang perlu diabaikan perlahan menghilang dari kesadaran kolektif.
Akar teori framing sering dilacak pada pemikiran sosiolog Erving Goffman. Goffman menyebut ini sebagai kerangka desain interpretif yang kita gunakan dalam pengalaman sehari-hari untuk memahami dunia. Frame atau kerangka membantu kita mereduksi kompleksitas informasi, namun ia bertindak dengan cara dua arah: frame membantu menginterpretasikan dan merekonstruksi realitas bahwa makna dunia dipahami oleh individu berdasarkan keyakinan, pengalaman, dan pengetahuan dunia mereka.
Di sinilah perspektif Mudji Sutrisno berkelindan. Dalam refleksi filsafat kebudayaannya, Mudji kerap menekankan bahwa manusia adalah makhluk penafsir—homo interpretans. Kita tidak pernah berhadapan dengan realitas telanjang; selalu ada selubung makna, nilai, dan kepentingan yang menyertainya. Framing, dalam konteks ini, bukan sekadar teknik komunikasi, melainkan ekspresi dari cara kebudayaan bekerja dalam membentuk kesadaran.
Maka framing tidak pernah netral. Ia selalu membawa jejak ideologi, bahkan ketika tampil sebagai bahasa yang tampak wajar dan objektif. Ketika media memilih kata “penyesuaian anggaran” alih-alih “pemotongan hak sosial”, atau “stabilitas keamanan” alih-alih “pembatasan kebebasan”, yang bekerja bukan sekadar stilistika, melainkan politik makna.
Dalam masyarakat demokratis, di mana media sering disebut sebagai pilar keempat, kesadaran akan framing menjadi kunci literasi publik. Framing membantu kita membaca bukan hanya apa yang diberitakan, tetapi bagaimana dan untuk kepentingan siapa suatu peristiwa diceritakan.
Pada tingkat makro, framing beroperasi melalui struktur pemberitaan: pemilihan isu, narasumber, dan sudut pandang. Pada tingkat mikro, framing memengaruhi cara individu memproses informasi, berkelindan dengan mekanisme priming—yakni penyediaan konteks awal yang menjadi rujukan penilaian berikutnya. Apa yang pertama kali ditanamkan, sering kali menjadi standar untuk menilai segalanya.
Menariknya, framing tidak hanya milik media atau politik. Penulis fiksi, penulis biografi, bahkan kita sendiri dalam menceritakan hidup, terus-menerus melakukan pembingkaian. Kehidupan yang biasa dapat dihadirkan sebagai kisah heroik; kegagalan dapat ditata ulang sebagai proses pembelajaran. Dalam arti ini, framing adalah cara kita berdamai—atau berkelahi—dengan kenyataan.
Pada akhirnya, hampir tidak ada komunikasi yang bebas dari framing. Setiap kata memilih, setiap kalimat menekankan, setiap cerita menyembunyikan kemungkinan cerita lain. Yang sering luput kita sadari adalah: ketika kita merasa sedang memahami dunia, boleh jadi kita sedang mengikuti kerangka yang telah disiapkan untuk kita.
Sadarilah bahwa apa pun yang terkomunikasikan pasti mengandung framing, dan segala hal —termasuk yang didengar dari teman yang terpercaya atau dari postingan hoax di media sosial— tidak akan bersih dari efek framing.
Termasuk tulisan ini.