Algoritma, Alter Ego, dan Hilangnya Toto Kromo

Peradaban tidak dibangun oleh kecanggihan teknologi yang memecah belah dan mengeksploitasi, melainkan oleh martabat yang terus dipelihara. – Mahatma Gandhi

Di laut lepas, seorang pelaut yang berpengalaman tahu bahwa arah tidak pernah ditentukan oleh satu alat saja. Kompas memang penting, tetapi bisa juga keliru.

Ia membaca angin, menimbang arus, mengamati awan, bahkan memperhatikan burung-burung yang melintas rendah.

Jarum yang tampak mantap kadang bergeser oleh tarikan yang tak kasatmata. Sedikit saja penyimpangan arah, kapal bisa kehilangan pelabuhan.

Laut mengajarkan satu hal yang sederhana: petunjuk teknis berguna, tetapi keputusan akhir tetap memerlukan kewaspadaan manusia.

Pelajaran itu terasa ganjil, tetapi justru selaras untuk hidup manusia hari ini.

Sebab manusia modern sedang memegang kompas baru bernama algoritma.

Semakin banyak hal dipercayakan kepadanya. Apa yang dibaca, apa yang ditonton, siapa yang didengar, ke mana perhatian diarahkan, bahkan bagaimana dunia dinilai.

Pada mulanya semua tampak baik-baik saja.

Kecerdasan artifisial alias akal imitasi hadir sebagai alat bantu. Ia merapikan pekerjaan, mempercepat pengolahan data, menghemat waktu, dan membuat banyak urusan menjadi lebih praktis. Di hadapan segala keterbatasan manusia, teknologi datang seperti pelayan yang cekatan.

AI bekerja dengan cara yang pada dasarnya sangat manusiawi: mengamati, mengenali pola, lalu menirukan. Ia memproses data dalam jumlah besar, merekam kecenderungan, dan menyusun prediksi berdasarkan kebiasaan yang terbaca. Dengan kecepatan yang jauh melampaui manusia, ia belajar dari jejak perilaku manusia sendiri.

Karena itu, pertanyaan tentang AI sebenarnya bukan pertama-tama pertanyaan teknis. Ini adalah pertanyaan tentang manusia. Tentang sejauh mana manusia bersedia menyerahkan penilaian, perhatian, bahkan sebagian kebebasannya kepada mesin yang bekerja berdasarkan pola, bukan kebijaksanaan.

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Algoritma bukan sekadar alat hitung. Ia juga membentuk medan sosial. Ia menentukan apa yang tampak dan apa yang tenggelam. Ia mengurutkan kepentingan, menonjolkan suara tertentu, dan mengaburkan yang lain. Yang sering dianggap netral, dalam praktiknya kerap memuat logika seleksi yang tidak sepenuhnya terbuka.

Di titik itulah persoalannya tidak lagi teknis. Ia menjadi persoalan nyata. Soal bagaimana manusia membaca dirinya sendiri ketika alat yang diciptakannya mulai diam-diam menentukan arah hidupnya.

Manusia sering membanggakan diri sebagai makhluk yang makin terhubung.

Padahal, boleh jadi yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang hadir di banyak ruang, tetapi tidak sungguh-sungguh mendarat di mana pun. Kedekatan tampak terbangun, tetapi perjumpaan yang utuh justru makin jarang terjadi.

Di ruang siber, manusia membangun diri kedua.

Sosok itu menjelma menjadi avatar yang lebih berani, lebih tajam, lebih cerewet, lebih cepat menghakimi. Dari balik layar, makian dapat dilontarkan dengan ringan, seolah-olah kata-kata tidak pernah punya akibat moral.

Namun di dunia nyata, tidak sedikit yang justru membeku.

Tatapan mudah turun ke layar. Percakapan makin kikuk. Keberanian yang melimpah di kolom komentar mendadak menguap ketika seseorang harus hadir sebagai manusia yang utuh di hadapan manusia lain.

Di sinilah alter ego menemukan panggungnya.

Cyberspace menjanjikan kebebasan, tetapi juga menyediakan labirin. Orang merasa bisa menjadi siapa saja, mengatakan apa saja, dan lepas dari beban tanggung jawab. Padahal, yang sering terjadi justru fragmentasi diri.

Manusia seperti hidup dalam teater yang ramai, tetapi batinnya sunyi.

Masalahnya tidak berhenti pada soal citra diri. Ia merembet ke cara manusia berelasi. Bahasa menjadi singkat, keras, dan fungsional. Sapaan dianggap basa-basi. Penghormatan dinilai memperlambat. Kehangatan dipotong agar semua serba sat-set.

Lalu hilanglah sesuatu yang dulu menopang pergaulan: toto kromo.

Toto kromo bukan sekadar sopan santun dalam arti permukaan. Ia bukan tempelan moral untuk acara resmi. Ia menjaga agar komunikasi tidak jatuh menjadi semata-mata pertukaran data. Ia adalah struktur halus yang membuat seseorang sadar bahwa bahasa bukan hanya alat menyampaikan maksud, melainkan juga ruang memelihara martabat.

Ya, di dalam toto kromo, ada pengakuan terhadap martabat.

Ada jarak yang patut. Ada pilihan kata yang menandai kesadaran etis. Ada kehati-hatian agar komunikasi tidak berubah menjadi tabrakan kepentingan.

Ketika itu hilang, yang rusak bukan cuma bahasa.

Yang rusak adalah kepekaan.

Maka muncullah gejala yang semakin lazim: orang sulit membedakan mana gurauan, mana keseriusan; mana teguran, mana penghinaan; mana penderitaan sungguhan, mana sekadar tontonan yang lewat di linimasa. Banyak orang bisa tertawa pada sesuatu yang mestinya menyayat hati, tetapi sekaligus bisa marah berlebihan untuk perkara yang sangat fana.

Lebih celaka lagi, dunia digital juga mengubah watak pergaulan. Di sinilah toto kromo mulai rontok.

Di ruang daring, orang mudah sekali menjadi pemberani dadakan. Mulutnya galak, jarinya lincah, etikanya kempes. Salam hilang. Perkenalan hilang. Hormat tinggal formalitas yang dianggap ribet. Pesan-pesan berubah menjadi potongan komando, singkatan akalan-akalan, dan bahasa ringkas tetapi miskin rasa. Seolah-olah manusia cukup hadir sebagai notifikasi.

Ini bukan sekadar soal sopan santun. Ini soal struktur batin.

Toto kromo, dalam pengertian yang paling hidup, bukan cuma tata cara berbicara. Ia adalah teknologi sosial yang lebih tua dan lebih cerdas daripada aplikasi mana pun. Ia mengajarkan jarak yang patut, penghormatan yang tidak dibuat-buat, dan kesadaran bahwa orang lain bukan tombol yang bisa ditekan sesuka hati.

Namun dalam logika platform, relasi semacam itu dianggap lambat. Lagi-lagi pasar memang suka yang gesit.

Semua harus instan, singkat, langsung jadi. Bahkan empati pun ingin dipercepat. Padahal, justru yang manusiawi sering bekerja lewat jeda, basa-basi, dan kehati-hatian. Dunia digital cuci tangan dengan bilang itu tidak efisien.

Yang paling ironis, semua ini datang dengan wajah progresif.
Seolah-olah yang lambat pasti kalah.

Ini bukan semata-mata krisis etiket.

Ini krisis afeksi.

Algoritma bekerja bukan hanya dengan menghitung, melainkan juga dengan membiasakan. Ia merekam apa yang diklik, apa yang ditahan lebih lama, apa yang diulang, apa yang memancing marah, takut, atau penasaran. Dari sana ia membangun ruang mental tempat manusia tinggal setiap hari.

Akal imitasi pelan-pelan dibentuk oleh sejarah kliknya sendiri.

Karena itu, relasi manusia dengan teknologi modern tidak sesederhana hubungan tuan dan alat. Hubungan itu lebih mirip relasi timbal balik yang tidak seimbang. Manusia merasa memakai mesin, padahal diam-diam mesin ikut menyusun ulang kebiasaan, emosi, dan orientasi hidup.

Akibatnya tidak selalu dramatis.

Ia datang perlahan, justru karena terlalu nyaman. Manusia makin praktis, tetapi belum tentu makin reflektif. Segalanya makin cepat, tetapi belum tentu makin bijak. Koneksi makin rapat, tetapi empati belum tentu ikut menguat.

Lihat saja kegelisahan-kegelisahan kecil yang kini terasa wajar.

Sinyal internet berputar-putar sedikit, orang panik. Listrik padam sejenak, seolah pegangan hidup ikut terputus. Layar meredup, seisi hari terasa terganggu. Tetapi menurunnya kualitas percakapan, mengeringnya kepedulian, dan merosotnya kedalaman batin nyaris tidak menimbulkan kepanikan yang sama.

Di situlah candu modern bekerja paling halus.

Bukan dengan memaksa, melainkan dengan meninabobokan.

Sebagian kalangan menyebut fase ini sebagai gejala posthumanisme: suatu keadaan ketika kebanggaan manusia sebagai subjek otonom mulai terkikis oleh sistem otomatisasi. Mesin tidak lagi hanya membantu kerja tubuh, tetapi juga mengambil alih fungsi-fungsi yang dulu dianggap khas manusia: mengingat, memilih, merangkum, menilai, bahkan menyusun kata-kata.

Maka pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan lagi apakah mesin akan menjadi semakin cerdas.

Itu sudah terjadi.

Pertanyaannya adalah: apakah manusia masih cukup sadar untuk menjaga dirinya tetap manusia?

Dalam tradisi Jawa, ada nasihat ngeli ananging ora keli—mengalir mengikuti arus, tetapi tidak hanyut olehnya. Manusia tidak diminta menolak zaman. Yang dituntut hanyalah agar manusia tidak menyerahkan seluruh dirinya kepada zaman.

Nasihat itu terasa penting justru ketika segala hal bergerak terlalu cepat.

Sebab modernitas sering menyamarkan penaklukan sebagai kemudahan. Yang disebut efisiensi tidak selalu netral. Yang tampak praktis tidak selalu memuliakan manusia. Yang terasa canggih tidak otomatis membuat peradaban menjadi lebih beradab.

Hari ini orang mulai membicarakan kemampuan mesin membaca ekspresi, mengenali emosi, memetakan kecenderungan psikologis, bahkan menebak niat lewat data biometrik dan pola perilaku. Mesin tidak lagi sekadar merekam tindakan, tetapi berambisi menyingkap isi kepala.

Jika itu benar-benar menjadi kenyataan, persoalannya jauh lebih besar daripada soal privasi.

Ia menyentuh inti kebebasan manusia.

Apa jadinya jika kelak algoritma lebih piawai membaca wajah manusia daripada manusia membaca nuraninya sendiri?

Apa jadinya jika topeng sosial yang dipakai setiap hari dapat dibuka satu per satu oleh sistem yang diciptakan manusia sendiri?

Barangkali, di situlah ironi terbesar zaman ini.

Manusia membangun teknologi untuk memperluas kuasa, tetapi bisa saja berakhir dengan mengerdilkan kemanusiaannya sendiri.

Karena itu, yang perlu dijaga pada akhirnya bukan hanya kecanggihan alat.

Melainkan keberanian untuk tetap menempatkan teknologi sebagai sarana, bukan sebagai hakim diam-diam atas hidup manusia.

Kecerdasan teknis memang diperlukan. Tetapi lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah kewaspadaan moral, disiplin batin, dan kesadaran bahwa tidak semua yang bisa dihitung layak menentukan arah manusia.

Kita tentu tidak bisa pura-pura kembali ke zaman layar perahu.
Itu romantisme murahan.

Tetapi kita juga tidak wajib menyerahkan kompas batin kepada mesin.

AI boleh dipakai sebagai alat. Ia tidak boleh naik pangkat menjadi ukuran tunggal tentang apa yang penting, apa yang patut, dan siapa yang layak didengar.

Di tengah banjir otomatisasi, manusia justru harus lebih sadar untuk tetap menjadi manusia.

Laut selalu menguji pelaut pada satu hal: apakah ia masih bisa membaca langit ketika kompas mulai bohong?

Sekarang pertanyaan itu kemanusiaan yang memegang jawabannya.

ESAITI.SCIENCE
Dikonstruksi oleh F. Noor