Tradisi Groupthink

Oleh F. Noor

Ada jenis kesepakatan yang tidak memerlukan perdebatan.

Seseorang berkata, “Bagaimana kalau begini?”

Yang lain mengangguk.

“Boleh.”

“Setuju.”

“Ya, jalankan saja.”

Selesai.

Kopi belum habis, rapat sudah selesai. Tidak ada suara meninggi, tidak ada kursi bergeser, tidak ada kening yang berkerut lama. Semua pulang dengan perasaan: keputusan telah dibuat.

Padahal, keputusan yang terlalu mudah sesekali perlu diberi jeda.

Sebab seseorang bisa mengatakan setuju bukan karena ia sungguh-sungguh setuju, melainkan karena orang lain sudah lebih dahulu mengatakan setuju.

Ia tidak ingin menjadi satu-satunya yang berbeda.

Maka ia mengangguk.

Di situlah groupthink mulai bekerja.

Bukan dengan perintah. Bukan dengan paksaan. Sering kali ia datang dalam bentuk yang jauh lebih sopan: keinginan untuk menjaga suasana tetap nyaman.

Bayangkan sebuah keluarga hendak makan malam.

“Makan di mana?”

“Terserah.”

“Di warung baru saja?”

“Boleh.”

Semua berangkat.

Sesampainya di sana, tempatnya penuh. Parkir susah. Makanannya biasa saja. Setelah beberapa suap, seseorang berkata pelan,

“Sebenarnya tadi saya ingin makan di tempat sebelah.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Yang lain sudah setuju.”

Kalimat terakhir itu tampaknya tidak penting. Tetapi justru di sanalah persoalannya.

Yang lain sudah setuju.

Seolah-olah setelah orang lain memilih satu arah, seseorang menjadi sungkan untuk melihat ke arah lain.

Dalam studi psikologi sosial, kecenderungan kelompok untuk mengutamakan keselarasan sosial sehingga mematikan daya kritis anggotanya didefinisikan sebagai groupthink (pemikiran kelompok).

Istilah yang diperkenalkan Irving Janis ini membantu menjelaskan mengapa kelompok yang sebenarnya dihuni orang-orang cerdas dan berpengalaman dapat mengambil keputusan tanpa cukup memberi tempat bagi keraguan.

Bukan karena mereka tidak mampu berpikir.

Kadang justru karena kesadaran sebagai bagian dari kelompok terasa lebih kuat daripada dorongan untuk mempertanyakan keputusan.

Keinginan untuk tetap menjadi bagian dari kelompok dapat membuat seseorang menimbang pendapatnya dengan pertanyaan yang tidak pernah diucapkan: bagaimana kalau saya berbeda sendiri?

Keraguan pun disimpan.

Keberatan ditunda.

Pendapat dilipat rapi.

Lalu semua mengangguk.

Bentuknya bahkan lebih sederhana di dalam grup percakapan.

Seseorang menulis:

“Bagaimana kalau rapat Jumat pagi?”

Satu orang menjawab, “Setuju.”

Muncul jempol.

Jempol berikutnya.

Kemudian jempol lagi.

Kesepakatan tampak bulat.

Padahal boleh jadi ada dua orang yang sebenarnya tidak dapat hadir Jumat pagi.

Mengapa tetap memberi jempol?

Karena yang lain sudah memberi jempol.

Tidak ada yang sedang berniat menipu. Tidak ada yang menyuruh. Hanya saja, persetujuan orang lain perlahan menjadi alasan bagi persetujuan seseorang sendiri.

Di sini groupthink bekerja melalui suasana.

Seseorang melihat sekeliling.

Semua tampak setuju.

Lalu muncul pikiran, mungkin hanya dirinya yang ragu.

Orang di sebelahnya mungkin berpikir hal yang sama. Ia juga ragu, tetapi melihat yang lain tak bersuara. Akhirnya semua mengurungkan ucapan.

Kesunyian lalu dibaca sebagai persetujuan.

Padahal tidak seorang pun pernah sungguh-sungguh mengatakannya.

Keadaan semacam ini dikenal sebagai gejala pluralistic ignorance, atau kebungkaman berjamaah akibat salah kira. Seseorang menyimpan keraguan, tetapi karena orang-orang di sekelilingnya tampak tenang, ia mengira hanya dirinya yang tidak yakin.

Padahal, boleh jadi seluruh ruangan sedang menyimpan kegelisahan yang sama—hanya saja tak seorang pun ingin menjadi yang pertama mengatakannya.

Di sinilah teori menjadi berguna. Ia bukan sekadar nama untuk dipajang dalam tulisan, melainkan pisau kecil untuk membelah sesuatu yang sehari-hari dianggap biasa.

Dalam rapat, mekanismenya bisa berlangsung lebih halus.

Sebuah usulan disampaikan.

Ruangan hening sebentar.

Seseorang berkata, “Saya kira bisa.”

Yang lain menjawab, “Setuju.”

Kemudian beberapa kepala mengangguk.

Tidak ada yang salah dengan itu. Bisa saja semua memang sudah mempertimbangkan dan benar-benar sepakat.

Tetapi ada satu pertanyaan yang sesekali layak diajukan:

Apakah kesepakatan lahir karena semua sudah berpikir, atau justru pemikiran berhenti karena kesepakatan sudah terbentuk?

Perbedaannya tipis, tetapi akibatnya tidak selalu kecil.

Sebab keputusan bukan hanya soal apa yang akhirnya disetujui. Cara sebuah keputusan terbentuk juga menentukan mutu keputusan itu sendiri.

Notulen dapat mencatat bahwa sebuah usulan telah disepakati. Tetapi notulen tidak mencatat keraguan yang sempat berputar di kepala seseorang.

Ia tidak mencatat kalimat yang sudah sampai di ujung lidah:

“Bagaimana kalau dilihat lagi?”

Kemudian kalimat itu urung keluar.

Bukan karena ada yang melarang.

Barangkali hanya karena suasananya sudah terlalu bulat.

Eksperimen klasik Solomon Asch memperlihatkan bahwa pendapat kelompok dapat membuat seseorang meragukan apa yang sebenarnya dilihatnya sendiri. Jawaban yang salah bisa diikuti hanya karena semua orang di sekeliling memberikan jawaban yang sama.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya mungkin jauh lebih sederhana: ikut-ikutan karena sungkan, memilih aman dengan mengekor, atau menahan pendapat karena tidak ingin menjadi satu-satunya yang berbeda.

Di sinilah konformitas bekerja: bukan karena seseorang tidak tahu mana yang benar, melainkan karena menjadi satu-satunya yang berbeda sering terasa lebih berat daripada ikut bersama yang lain.

Manusia tidak selalu mengikuti orang lain karena tidak tahu.

Kadang seseorang mengikuti karena tidak ingin menjadi satu-satunya.

Mungkin itu sebabnya ikut saja menjadi ungkapan yang begitu mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ikut saja.

Yang lain juga begitu.

Sudah biasa.

Dari dulu juga begitu.

Tidak semuanya keliru.

Dalam banyak keadaan, mengalah memang bagian dari hidup bersama. Tidak semua perbedaan perlu dijadikan perkara.

Tetapi ada saat ketika mengalah bukan lagi keluwesan.

Ia menjadi pengunduran diri yang terlalu sopan dari proses berpikir.

Persoalannya bukan pada mengangguk.

Persoalannya adalah ketika seseorang sudah lupa mengapa ia mengangguk.

Di sinilah groupthink dapat bergerak lebih jauh.

Ia bisa berulang.

Hari ini seseorang menahan keberatan.

Besok orang lain melakukan hal yang sama.

Lusa pola itu kembali terjadi.

Lama-kelamaan orang mengetahui semacam aturan tak tertulis: kapan sebaiknya berbicara, kapan sebaiknya mengangguk, dan kapan lebih aman mengatakan, “Terserah.”

Tidak ada buku pedoman.

Tidak ada pelatihan khusus.

Tidak ada yang berdiri di depan kelas dan mengajarkan cara menjadi orang yang selalu setuju.

Namun anggota baru akan belajar.

Ia memperhatikan bagaimana orang-orang lain bersikap.

Ia melihat apa yang terjadi ketika seseorang berbeda pendapat.

Ia membaca suasana. Lalu ia menyesuaikan diri.

Begitulah groupthink dapat berubah dari gejala menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan, jika cukup lama dilakukan, sering memperoleh nama yang lebih terhormat: tradisi.

“Memang dari dulu begitu.”

Kalimat ini terdengar di banyak tempat.

Ia dapat menyimpan kebijaksanaan. Tetapi ia juga dapat menghentikan pertanyaan.

Sesuatu yang dilakukan sejak lama tidak otomatis menjadi benar. Umur sebuah kebiasaan bukan sertifikat kebenaran.

Tradisi yang sehat memberi manusia ingatan.

Tradisi yang tidak pernah boleh diperiksa justru membuat ingatan berubah menjadi pagar.

Pada titik inilah groupthink menjadi lebih sulit dikenali.

Ia tidak lagi terasa seperti tekanan. Tidak ada yang memaksa siapa pun untuk berpikir sama.

Orang hanya merasa sedang tahu diri.

Dan justru karena itu ia bertahan.

Ada sesuatu yang menarik dari perubahan tersebut.

Pada awalnya, seseorang mungkin menahan suara karena sungkan.

Lalu orang lain ikut hening karena melihatnya.

Setelah beberapa kali, menyimpan keberatan menjadi kebiasaan.

Ketika kebiasaan berlangsung cukup lama, anggota baru menganggapnya sebagai cara yang memang semestinya.

Tidak ada lagi yang bertanya mengapa.

Begitulah caranya.

Di sinilah groupthink mendapatkan bentuk yang paling halus: ia tidak lagi membutuhkan orang yang memaksakan keseragaman, karena kelompok sudah belajar memelihara keseragaman itu sendiri.

Mungkin inilah yang membuat groupthink lebih berbahaya ketika telah menjadi tradisi.

Ia tidak terasa sebagai sesuatu yang perlu dilawan.

Ia justru terasa sebagai sesuatu yang perlu dihormati.

Karena itu, kesepakatan tidak perlu selalu dicurigai.

Kesepakatan diperlukan agar pekerjaan bergerak. Kelompok tidak mungkin hidup hanya dari perbedaan pendapat.

Yang perlu diperiksa adalah kesepakatan yang tidak pernah sempat diuji.

Sesekali cukup ada pertanyaan kecil:

“Adakah yang melihatnya berbeda?”

Atau:

“Bagian mana yang masih meragukan?”

Bahkan:

“Kalau keputusan ini keliru, kira-kira di mana letak kelirunya?”

Pertanyaan semacam itu bukan upaya mencari kesalahan.

Ia hanya membuka jendela.

Sebab kelompok yang sehat bukan kelompok yang selalu memiliki pendapat sama. Kelompok yang sehat adalah kelompok yang dapat berbeda pendapat tanpa harus kehilangan rasa menjadi bagian dari kelompok.

Di sana, orang dapat berkata “tidak” tanpa harus merasa bersalah.

Dan setelah mengatakan tidak, ia masih bisa duduk bersama untuk mencari jalan lain.

Sering kali harmoni disamakan dengan kesamaan suara.

Padahal paduan suara tidak menjadi indah karena semua penyanyi memiliki suara yang sama.

Ada suara tinggi dan suara rendah.

Ada yang masuk lebih dahulu dan ada yang menyusul.

Harmoni justru lahir karena suara-suara yang berbeda itu saling mendengarkan.

Kalau semua orang harus menyanyi dengan nada yang sama, tidak diperlukan paduan suara.

Cukup satu orang bernyanyi.

Yang lain tinggal membuka mulut.

Begitu pula dalam kelompok.

Kebersamaan bukan berarti semua kepala harus sampai pada kesimpulan yang sama sejak awal.

Kebersamaan adalah kemampuan untuk tetap berjalan bersama setelah perbedaan didengarkan.

Maka barangkali ukuran sederhana sebuah kelompok yang sehat bukanlah berapa banyak orang yang mengatakan “setuju”.

Ukuran yang lebih menarik adalah apakah orang yang berkata “tidak” masih merasa punya tempat.

Sebab kesepakatan yang baik bukan kesepakatan yang membuat perbedaan menghilang.

Ia adalah kesepakatan yang lahir setelah perbedaan sempat terdengar.

Dan ketika sebuah pertemuan berakhir dengan kalimat, “Sudah, semua sepakat,” tidak perlu buru-buru merasa lega.

Cukup berhenti sebentar.

Bukan untuk mencurigai siapa-siapa.

Hanya untuk bertanya:

Apakah kesepakatan itu sungguh lahir dari pikiran yang telah diuji, atau sekadar dari kebiasaan mengangguk?

Sebab groupthink mungkin tidak selalu dimulai untuk menyuruh orang lain berpikir sama.

Kadang ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana:

dari satu anggukan, disusul anggukan berikutnya, sampai tidak ada lagi yang ingat kapan terakhir kali sebuah pertanyaan sungguh-sungguh diajukan.

Dan ketika itu berlangsung cukup lama, groupthink tidak lagi tampak sebagai masalah.

Ia telah menjadi kebiasaan.

Kebiasaan yang menjadi tradisi.

Lalu tradisi, tanpa banyak suara, mulai terasa seperti kebenaran.

F. Noor, ESAITI.SCIENCE