Etika Gincu

Oleh F. Noor

Etika komunikasi kerap direduksi menjadi gincu: memperindah wajah pesan,  sementara persoalan moral di baliknya dibiarkan tetap tersembunyi.

 

Di sebuah sudut becek di kaki lima Pasar Baru, seorang lelaki berpeci miring menggelar selembar tikar pandan yang lusuh.

Ia tidak menjual jamu, tidak juga menawarkan jasa pijat urat.

Di atas tikar itu diletakkannya sebuah kotak kayu kosong dan segulung kain hitam.

Orang-orang melambat, lalu mengerumuninya seperti semut mendatangi tumpahan sirup murah.

Ada rasa gatal yang hebat di kepala setiap penonton yang berdiri di sana: rasa ingin tahu yang liar, purba, dan tak tertahankan.

Ia mengetukkan sebatang kayu kasau ke pinggiran kotak, menciptakan bunyi yang ritmis.

Sihir selalu dimulai dengan membujuk penonton untuk sepakat membiarkan dirinya ditipu secara sukarela.

Rasa ingin tahu yang menggelitik kerumunan itu adalah dorongan kodrati yang paling purba.

Manusia memang dirancang untuk berefleksi dan mencari tahu apa yang tersembunyi di balik selubung.

Aristoteles menyebut dorongan itu sebagai desire to know, hasrat untuk mengetahui—dorongan yang membuat manusia tak betah tinggal lama dalam ketidaktahuan.

Namun, di tangan pesulap Pasar Baru ini, hasrat suci itu dijinakkan menjadi alat mengejar keuntungan sepihak.

Di situlah persoalannya: ketika komunikasi kehilangan pertanggungjawaban moral, etika mudah berubah menjadi gincu—memperindah wajah pesan, sementara apa yang semestinya dipertanggungjawabkan disembunyikan di balik panggung.

Anatomi setiap tipuan sulap jalanan selalu bertumpu pada satu hukum besi: misdirection, pengalihan perhatian.

Alihkan pandangan mereka.

Ketika tangan kanan sang pesulap melambai-lambai dengan anggun di udara, tangan kirinya sedang sibuk merogoh kantong celana.

Di situlah letak ilmu kadalnya: kemampuan mengubah gerak kecil menjadi perhatian besar, sementara yang penting justru berlangsung di tempat lain.

Seperti digambarkan Jostein Gaarder, dunia ini bagaikan seekor kelinci putih raksasa yang ditarik keluar dari topi kosong sang pesulap semesta.

Manusia-manusia yang terlalu sibuk memikirkan harga tomat dan cicilan motor, memilih meringkuk nyaman di sela-sela bulu halusnya yang hangat.

Hanya mereka yang berani berpikir  nekat memanjat helaian bulu tipis itu demi bisa menatap langsung ke biji mata sang pesulap.

Tetapi pesulap jalanan tidak ingin penontonnya memanjat terlalu tinggi.

Bagi dia, penonton yang mulai berpikir kritis adalah ancaman bagi kelangsungan periuk nasinya.

Maka, ia menciptakan aturan main yang ketat, seperangkat kesopanan yang membuat penonton tetap diam di tempatnya.

Tutup mata.

Tutup mulut.

Jika ada penonton lancang yang mencoba memeriksa bagian bawah kotak kayu, sang pesulap akan segera mencapnya sebagai perusak keharmonisan.

Aturan formal itu dibuat bukan untuk menjaga keindahan seni sulap, melainkan untuk melestarikan kuasa tunggal sang pesulap atas kebenaran semu.

Kini, lompatlah sebentar ke gedung-gedung tinggi berpendingin udara di Sudirman, atau ke podium-podium politik yang riuh di televisi.

Di sana, pesulap yang sama muncul dengan kostum yang berbeda.

Mereka mengenakan jas mahal, tetapi menggunakan trik yang sama.

Kotak kayu berganti meja rapat. Tikar pandan berubah menjadi podium.

Kain hitam menjelma layar presentasi. Namun, tangannya tetap bekerja dengan cara yang serupa: satu mengalihkan perhatian, satu lagi menyembunyikan sesuatu.

Nama mentereng dari permainan baru itu: seni mengelola citra.

Di sinilah permainan itu memperoleh nama yang terdengar begitu terhormat.

Dalam Filsafat Moral: Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia, Agustinus W. Dewantara mengingatkan bahwa etika tidak dapat disamakan dengan etiket.

Etiket berurusan dengan kepantasan lahiriah, sedangkan etika membawa pertanyaan lebih jauh: apa yang membuat suatu tindakan sungguh baik.

Etiket ibarat tata cara memegang garpu perak saat menjamu tamu, sementara di dapur belakang para koki sedang saling menjegal.

Etika berbeda.

Etika menuntut manusia bertindak baik secara menyeluruh.

Ia menyentuh motivasi batin dan mengantar manusia pada pertanyaan yang lebih sulit: bukan sekadar bagaimana bertindak dengan pantas, melainkan bagaimana menjadi baik.

Persoalannya, di tangan para pemoles citra, etika diperas menjadi sekadar bedak kosmetik.

“Gincu” dalam bahasa sehari-hari adalah kosmetik untuk mempercantik tampilan luar.

Karena itu, “Etika Gincu” adalah sebuah pembacaan terhadap praktik ketika etika kehilangan kedalaman moralnya dan direduksi menjadi etiket: sopan santun luar yang digunakan untuk memoles wajah kebohongan agar terlihat patut dan menawan.

Polesan itu tebal sekali.

Di balik keindahan kosmetik tersebut, pembusukan tatanan sosial berjalan secara diam-diam.

Lee Thayer, dalam On the Uses of Communication, mengingatkan bahaya penyalahgunaan bahasa.

Sepanjang sejarah manusia, penyalahgunaan bahasa (misuses of language) dapat menjadi salah satu hulu dari kehancuran tatanan sosial dan dekadensi moral.

Bahasa yang semestinya mempertemukan kesadaran batin justru dipelintir menjadi alat tipu-tipu.

Menyamarkan polesan itu dengan label “kode etik” yang agung di atas kertas adalah salah satu bentuk manipulasi bahasa.

Siasat manipulatif itu dirancang untuk menutupi kebobrokan tindakan nyata yang amis.

Ketika ruang hidup warga dirusak, pertanggungjawaban moral semestinya hadir bersama tindakan nyata.

Namun, tidak jarang yang lebih dahulu tampil justru gerakan defensif untuk menyelamatkan citra, reputasi, dan kepentingan.

Bahasa tanggung jawab kemudian menggantikan tanggung jawab itu sendiri.

Pernyataan resmi menggantikan tindakan.

Konferensi pers menggantikan pertanggungjawaban.

Dan permintaan maaf kadang-kadang hanya menjadi tata cara untuk meminta maaf tanpa sungguh-sungguh merasa bersalah.

Persoalan yang sama muncul dalam ruang digital.

Kebebasan berekspresi di ruang digital mengalami nasib yang tidak kalah mengenaskan.

Para penguasa platform menciptakan algoritma yang menyaring informasi sesuai dengan selera pasar.

Di ruang digital, kesantunan terus dikhotbahkan sebagai syarat utama percakapan.

Tetapi kesantunan itu kadang justru menjadi cara baru untuk membungkam suara-suara sumbang dari pinggiran.

Yang dianggap mengganggu ketenangan sistem segera disebut tidak santun.

Yang mempertanyakan kebijakan disebut pembuat gaduh.

Yang membongkar kontradiksi disebut pencari perkara.

Sementara mereka yang paling mahir mengemas kebohongan dengan bahasa santun justru dipuji sebagai komunikator yang baik.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar benar atau salah dalam memilih kata. Persoalannya adalah hubungan antara bahasa dan kekuasaan.

Ketika kata-kata kehilangan jangkar moralnya, komunikasi runtuh menjadi sekadar transmisi kebisingan yang kosong makna.

Etika komunikasi  yang diajarkan di universitas pun berisiko terjebak menjadi panduan kosmetik: bagaimana berbicara dengan baik, bagaimana mengelola reputasi, bagaimana menyusun pesan krisis, dan bagaimana meminta maaf tanpa harus mengubah tindakan yang menyebabkan krisis itu.

Dalam retorika klasik Aristoteles, persuasi bekerja melalui logos, ethos, dan pathos. Persoalannya muncul ketika ethos—yang semestinya bertumpu pada kredibilitas—cukup dibangun melalui pencitraan.

Kebenaran objektif atau truth pun berisiko tergeser oleh apa yang disebut Stephen Colbert sebagai truthiness: sesuatu yang dianggap benar bukan karena benar, melainkan karena terasa benar, nyaman, dan sesuai dengan kepentingan.

Di sinilah “gincu” bekerja paling sempurna.

Ia tidak perlu menghapus kebohongan.

Ia cukup membuat kebohongan tampak sopan.

Socrates harus meminum racun di Athena bukan karena ia tidak sopan, melainkan karena pertanyaan-pertanyaannya mengganggu keyakinan dan kepentingan yang mapan.

Ia memilih menjadi pengganggu—menyengat kuda lelah bernama kekuasaan—dan menuntut pertanggungjawaban atas setiap kata yang diucapkan.

Ia menolak ikut dalam permainan sulap kekuasaan pada zamannya.

Socrates tidak menawarkan gincu.

Ia menawarkan pertanyaan.

Dan pertanyaan, bagi kekuasaan yang nyaman, selalu merupakan benda yang berbahaya.

Di ruang publik hari ini, para pencari makna yang berani mengusik permainan bahasa para pesulap digital pun dapat mengalami nasib serupa.

Mereka dicap sebagai pencari perkara.

Sebaliknya, para pesulap yang mahir bersilat lidah terus mendapat tepuk tangan.

Komunikasi akhirnya berisiko kehilangan daya pembebasnya. Ia tidak lagi menjadi jalan untuk membebaskan manusia dari distorsi bahasa, melainkan berubah menjadi ilmu kadal tingkat tinggi untuk melanggengkan dominasi yang kuat atas yang lemah.

Komunikasi tidak lagi dipakai untuk membuka tabir.

Ia dipakai untuk membuat tabir tampak indah.

Matahari sore di Pasar Baru mulai meredup, meninggalkan bayang-bayang panjang di atas tikar pandan.

Sang pesulap melipat tikarnya, mengantongi uang receh dari para penonton yang pulang dengan kepala kosong tetapi hati terhibur.

Pertunjukan telah selesai.

Kebohongan telah dirayakan.

Penonton kembali merayap masuk ke dalam kehangatan bulu kelinci yang membius.

Besok, pertunjukan yang sama akan diulang kembali dengan trik yang lebih rapi.

Mungkin kotaknya akan dibuat lebih indah.

Mungkin kain hitamnya akan diganti dengan layar LED.

Mungkin tikarnya akan berubah menjadi panggung konferensi pers.

Mungkin pecinya diganti jas.

Tetapi tangannya tetap sama.

Satu tangan mengalihkan perhatian.

Satu tangan lagi bekerja diam-diam.

Karena kuasa selalu membutuhkan kabut tebal untuk menyembunyikan tangannya yang kotor.

Selama penonton lebih terpukau oleh gincu daripada ingin tahu apa yang disembunyikan di baliknya, pertunjukan itu tak akan pernah kehilangan penonton.

F. Noor, ESAITI.SCIENCE