• Tradisi Groupthink

    Ada jenis kesepakatan yang tidak memerlukan perdebatan.

    Seseorang berkata, “Bagaimana kalau begini?”

    Yang lain mengangguk.

    “Boleh.”

    “Setuju.”

    “Ya, jalankan saja.”

    Selesai.

    Kopi belum habis, rapat sudah selesai. Tidak ada suara meninggi, tidak ada kursi bergeser, tidak ada kening yang berkerut lama. Semua pulang dengan perasaan: keputusan telah dibuat.

    Padahal, keputusan yang terlalu mudah sesekali perlu diberi jeda.

    Sebab seseorang bisa mengatakan setuju bukan karena ia sungguh-sungguh setuju, melainkan karena orang lain sudah lebih dahulu mengatakan setuju.

    Ia tidak ingin menjadi satu-satunya yang berbeda.

    Maka ia mengangguk.

    Di situlah groupthink mulai bekerja.

    Bukan dengan perintah. Bukan dengan paksaan. Sering kali ia datang dalam bentuk yang jauh lebih sopan: keinginan untuk menjaga suasana tetap nyaman.

    Bayangkan sebuah keluarga hendak makan malam.

    “Makan di mana?”

    “Terserah.”

    “Di warung baru saja?”

    “Boleh.”

    Semua berangkat.

    Sesampainya di sana, tempatnya penuh. Parkir susah. Makanannya biasa saja. Setelah beberapa suap, seseorang berkata pelan,

    “Sebenarnya tadi saya ingin makan di tempat sebelah.”

    “Kenapa tidak bilang?”

    “Yang lain sudah setuju.”

    Kalimat terakhir itu tampaknya tidak penting. Tetapi justru di sanalah persoalannya.

    Yang lain sudah setuju.

    Seolah-olah setelah orang lain memilih satu arah, seseorang menjadi sungkan untuk melihat ke arah lain.

    Dalam studi psikologi sosial, kecenderungan kelompok untuk mengutamakan keselarasan sosial sehingga mematikan daya kritis anggotanya didefinisikan sebagai groupthink (pemikiran kelompok).

    Istilah yang diperkenalkan Irving Janis ini membantu menjelaskan mengapa kelompok yang sebenarnya dihuni orang-orang cerdas dan berpengalaman dapat mengambil keputusan tanpa cukup memberi tempat bagi keraguan.

    Bukan karena mereka tidak mampu berpikir.

    Kadang justru karena kesadaran sebagai bagian dari kelompok terasa lebih kuat daripada dorongan untuk mempertanyakan keputusan.

    Keinginan untuk tetap menjadi bagian dari kelompok dapat membuat seseorang menimbang pendapatnya dengan pertanyaan yang tidak pernah diucapkan: bagaimana kalau saya berbeda sendiri?

    Keraguan pun disimpan.

    Keberatan ditunda.

    Pendapat dilipat rapi.

    Lalu semua mengangguk.

    Bentuknya bahkan lebih sederhana di dalam grup percakapan.

    Seseorang menulis:

    “Bagaimana kalau rapat Jumat pagi?”

    Satu orang menjawab, “Setuju.”

    Muncul jempol.

    Jempol berikutnya.

    Kemudian jempol lagi.

    Kesepakatan tampak bulat.

    Padahal boleh jadi ada dua orang yang sebenarnya tidak dapat hadir Jumat pagi.

    Mengapa tetap memberi jempol?

    Karena yang lain sudah memberi jempol.

    Tidak ada yang sedang berniat menipu. Tidak ada yang menyuruh. Hanya saja, persetujuan orang lain perlahan menjadi alasan bagi persetujuan seseorang sendiri.

    Di sini groupthink bekerja melalui suasana.

    Seseorang melihat sekeliling.

    Semua tampak setuju.

    Lalu muncul pikiran, mungkin hanya dirinya yang ragu.

    Orang di sebelahnya mungkin berpikir hal yang sama. Ia juga ragu, tetapi melihat yang lain tak bersuara. Akhirnya semua mengurungkan ucapan.

    Kesunyian lalu dibaca sebagai persetujuan.

    Padahal tidak seorang pun pernah sungguh-sungguh mengatakannya.

    Keadaan semacam ini dikenal sebagai gejala pluralistic ignorance, atau kebungkaman berjamaah akibat salah kira. Seseorang menyimpan keraguan, tetapi karena orang-orang di sekelilingnya tampak tenang, ia mengira hanya dirinya yang tidak yakin.

    Padahal, boleh jadi seluruh ruangan sedang menyimpan kegelisahan yang sama—hanya saja tak seorang pun ingin menjadi yang pertama mengatakannya.

    Di sinilah teori menjadi berguna. Ia bukan sekadar nama untuk dipajang dalam tulisan, melainkan pisau kecil untuk membelah sesuatu yang sehari-hari dianggap biasa.

    Dalam rapat, mekanismenya bisa berlangsung lebih halus.

    Sebuah usulan disampaikan.

    Ruangan hening sebentar.

    Seseorang berkata, “Saya kira bisa.”

    Yang lain menjawab, “Setuju.”

    Kemudian beberapa kepala mengangguk.

    Tidak ada yang salah dengan itu. Bisa saja semua memang sudah mempertimbangkan dan benar-benar sepakat.

    Tetapi ada satu pertanyaan yang sesekali layak diajukan:

    Apakah kesepakatan lahir karena semua sudah berpikir, atau justru pemikiran berhenti karena kesepakatan sudah terbentuk?

    Perbedaannya tipis, tetapi akibatnya tidak selalu kecil.

    Sebab keputusan bukan hanya soal apa yang akhirnya disetujui. Cara sebuah keputusan terbentuk juga menentukan mutu keputusan itu sendiri.

    Notulen dapat mencatat bahwa sebuah usulan telah disepakati. Tetapi notulen tidak mencatat keraguan yang sempat berputar di kepala seseorang.

    Ia tidak mencatat kalimat yang sudah sampai di ujung lidah:

    “Bagaimana kalau dilihat lagi?”

    Kemudian kalimat itu urung keluar.

    Bukan karena ada yang melarang.

    Barangkali hanya karena suasananya sudah terlalu bulat.

    Eksperimen klasik Solomon Asch memperlihatkan bahwa pendapat kelompok dapat membuat seseorang meragukan apa yang sebenarnya dilihatnya sendiri. Jawaban yang salah bisa diikuti hanya karena semua orang di sekeliling memberikan jawaban yang sama.

    Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya mungkin jauh lebih sederhana: ikut-ikutan karena sungkan, memilih aman dengan mengekor, atau menahan pendapat karena tidak ingin menjadi satu-satunya yang berbeda.

    Di sinilah konformitas bekerja: bukan karena seseorang tidak tahu mana yang benar, melainkan karena menjadi satu-satunya yang berbeda sering terasa lebih berat daripada ikut bersama yang lain.

    Manusia tidak selalu mengikuti orang lain karena tidak tahu.

    Kadang seseorang mengikuti karena tidak ingin menjadi satu-satunya.

    Mungkin itu sebabnya ikut saja menjadi ungkapan yang begitu mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Ikut saja.

    Yang lain juga begitu.

    Sudah biasa.

    Dari dulu juga begitu.

    Tidak semuanya keliru.

    Dalam banyak keadaan, mengalah memang bagian dari hidup bersama. Tidak semua perbedaan perlu dijadikan perkara.

    Tetapi ada saat ketika mengalah bukan lagi keluwesan.

    Ia menjadi pengunduran diri yang terlalu sopan dari proses berpikir.

    Persoalannya bukan pada mengangguk.

    Persoalannya adalah ketika seseorang sudah lupa mengapa ia mengangguk.

    Di sinilah groupthink dapat bergerak lebih jauh.

    Ia bisa berulang.

    Hari ini seseorang menahan keberatan.

    Besok orang lain melakukan hal yang sama.

    Lusa pola itu kembali terjadi.

    Lama-kelamaan orang mengetahui semacam aturan tak tertulis: kapan sebaiknya berbicara, kapan sebaiknya mengangguk, dan kapan lebih aman mengatakan, “Terserah.”

    Tidak ada buku pedoman.

    Tidak ada pelatihan khusus.

    Tidak ada yang berdiri di depan kelas dan mengajarkan cara menjadi orang yang selalu setuju.

    Namun anggota baru akan belajar.

    Ia memperhatikan bagaimana orang-orang lain bersikap.

    Ia melihat apa yang terjadi ketika seseorang berbeda pendapat.

    Ia membaca suasana. Lalu ia menyesuaikan diri.

    Begitulah groupthink dapat berubah dari gejala menjadi kebiasaan.

    Dan kebiasaan, jika cukup lama dilakukan, sering memperoleh nama yang lebih terhormat: tradisi.

    “Memang dari dulu begitu.”

    Kalimat ini terdengar di banyak tempat.

    Ia dapat menyimpan kebijaksanaan. Tetapi ia juga dapat menghentikan pertanyaan.

    Sesuatu yang dilakukan sejak lama tidak otomatis menjadi benar. Umur sebuah kebiasaan bukan sertifikat kebenaran.

    Tradisi yang sehat memberi manusia ingatan.

    Tradisi yang tidak pernah boleh diperiksa justru membuat ingatan berubah menjadi pagar.

    Pada titik inilah groupthink menjadi lebih sulit dikenali.

    Ia tidak lagi terasa seperti tekanan. Tidak ada yang memaksa siapa pun untuk berpikir sama.

    Orang hanya merasa sedang tahu diri.

    Dan justru karena itu ia bertahan.

    Ada sesuatu yang menarik dari perubahan tersebut.

    Pada awalnya, seseorang mungkin menahan suara karena sungkan.

    Lalu orang lain ikut hening karena melihatnya.

    Setelah beberapa kali, menyimpan keberatan menjadi kebiasaan.

    Ketika kebiasaan berlangsung cukup lama, anggota baru menganggapnya sebagai cara yang memang semestinya.

    Tidak ada lagi yang bertanya mengapa.

    Begitulah caranya.

    Di sinilah groupthink mendapatkan bentuk yang paling halus: ia tidak lagi membutuhkan orang yang memaksakan keseragaman, karena kelompok sudah belajar memelihara keseragaman itu sendiri.

    Mungkin inilah yang membuat groupthink lebih berbahaya ketika telah menjadi tradisi.

    Ia tidak terasa sebagai sesuatu yang perlu dilawan.

    Ia justru terasa sebagai sesuatu yang perlu dihormati.

    Karena itu, kesepakatan tidak perlu selalu dicurigai.

    Kesepakatan diperlukan agar pekerjaan bergerak. Kelompok tidak mungkin hidup hanya dari perbedaan pendapat.

    Yang perlu diperiksa adalah kesepakatan yang tidak pernah sempat diuji.

    Sesekali cukup ada pertanyaan kecil:

    “Adakah yang melihatnya berbeda?”

    Atau:

    “Bagian mana yang masih meragukan?”

    Bahkan:

    “Kalau keputusan ini keliru, kira-kira di mana letak kelirunya?”

    Pertanyaan semacam itu bukan upaya mencari kesalahan.

    Ia hanya membuka jendela.

    Sebab kelompok yang sehat bukan kelompok yang selalu memiliki pendapat sama. Kelompok yang sehat adalah kelompok yang dapat berbeda pendapat tanpa harus kehilangan rasa menjadi bagian dari kelompok.

    Di sana, orang dapat berkata “tidak” tanpa harus merasa bersalah.

    Dan setelah mengatakan tidak, ia masih bisa duduk bersama untuk mencari jalan lain.

    Sering kali harmoni disamakan dengan kesamaan suara.

    Padahal paduan suara tidak menjadi indah karena semua penyanyi memiliki suara yang sama.

    Ada suara tinggi dan suara rendah.

    Ada yang masuk lebih dahulu dan ada yang menyusul.

    Harmoni justru lahir karena suara-suara yang berbeda itu saling mendengarkan.

    Kalau semua orang harus menyanyi dengan nada yang sama, tidak diperlukan paduan suara.

    Cukup satu orang bernyanyi.

    Yang lain tinggal membuka mulut.

    Begitu pula dalam kelompok.

    Kebersamaan bukan berarti semua kepala harus sampai pada kesimpulan yang sama sejak awal.

    Kebersamaan adalah kemampuan untuk tetap berjalan bersama setelah perbedaan didengarkan.

    Maka barangkali ukuran sederhana sebuah kelompok yang sehat bukanlah berapa banyak orang yang mengatakan “setuju”.

    Ukuran yang lebih menarik adalah apakah orang yang berkata “tidak” masih merasa punya tempat.

    Sebab kesepakatan yang baik bukan kesepakatan yang membuat perbedaan menghilang.

    Ia adalah kesepakatan yang lahir setelah perbedaan sempat terdengar.

    Dan ketika sebuah pertemuan berakhir dengan kalimat, “Sudah, semua sepakat,” tidak perlu buru-buru merasa lega.

    Cukup berhenti sebentar.

    Bukan untuk mencurigai siapa-siapa.

    Hanya untuk bertanya:

    Apakah kesepakatan itu sungguh lahir dari pikiran yang telah diuji, atau sekadar dari kebiasaan mengangguk?

    Sebab groupthink mungkin tidak selalu dimulai untuk menyuruh orang lain berpikir sama.

    Kadang ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana:

    dari satu anggukan, disusul anggukan berikutnya, sampai tidak ada lagi yang ingat kapan terakhir kali sebuah pertanyaan sungguh-sungguh diajukan.

    Dan ketika itu berlangsung cukup lama, groupthink tidak lagi tampak sebagai masalah.

    Ia telah menjadi kebiasaan.

    Kebiasaan yang menjadi tradisi.

    Lalu tradisi, tanpa banyak suara, mulai terasa seperti kebenaran.

  • Etika Gincu

    Etika komunikasi kerap direduksi menjadi gincu: memperindah wajah pesan,  sementara persoalan moral di baliknya dibiarkan tetap tersembunyi.

     

    Di sebuah sudut becek di kaki lima Pasar Baru, seorang lelaki berpeci miring menggelar selembar tikar pandan yang lusuh.

    Ia tidak menjual jamu, tidak juga menawarkan jasa pijat urat.

    Di atas tikar itu diletakkannya sebuah kotak kayu kosong dan segulung kain hitam.

    Orang-orang melambat, lalu mengerumuninya seperti semut mendatangi tumpahan sirup murah.

    Ada rasa gatal yang hebat di kepala setiap penonton yang berdiri di sana: rasa ingin tahu yang liar, purba, dan tak tertahankan.

    Ia mengetukkan sebatang kayu kasau ke pinggiran kotak, menciptakan bunyi yang ritmis.

    Sihir selalu dimulai dengan membujuk penonton untuk sepakat membiarkan dirinya ditipu secara sukarela.

    Rasa ingin tahu yang menggelitik kerumunan itu adalah dorongan kodrati yang paling purba.

    Manusia memang dirancang untuk berefleksi dan mencari tahu apa yang tersembunyi di balik selubung.

    Aristoteles menyebut dorongan itu sebagai desire to know, hasrat untuk mengetahui—dorongan yang membuat manusia tak betah tinggal lama dalam ketidaktahuan.

    Namun, di tangan pesulap Pasar Baru ini, hasrat suci itu dijinakkan menjadi alat mengejar keuntungan sepihak.

    Di situlah persoalannya: ketika komunikasi kehilangan pertanggungjawaban moral, etika mudah berubah menjadi gincu—memperindah wajah pesan, sementara apa yang semestinya dipertanggungjawabkan disembunyikan di balik panggung.

    Anatomi setiap tipuan sulap jalanan selalu bertumpu pada satu hukum besi: misdirection, pengalihan perhatian.

    Alihkan pandangan mereka.

    Ketika tangan kanan sang pesulap melambai-lambai dengan anggun di udara, tangan kirinya sedang sibuk merogoh kantong celana.

    Di situlah letak ilmu kadalnya: kemampuan mengubah gerak kecil menjadi perhatian besar, sementara yang penting justru berlangsung di tempat lain.

    Seperti digambarkan Jostein Gaarder, dunia ini bagaikan seekor kelinci putih raksasa yang ditarik keluar dari topi kosong sang pesulap semesta.

    Manusia-manusia yang terlalu sibuk memikirkan harga tomat dan cicilan motor, memilih meringkuk nyaman di sela-sela bulu halusnya yang hangat.

    Hanya mereka yang berani berpikir  nekat memanjat helaian bulu tipis itu demi bisa menatap langsung ke biji mata sang pesulap.

    Tetapi pesulap jalanan tidak ingin penontonnya memanjat terlalu tinggi.

    Bagi dia, penonton yang mulai berpikir kritis adalah ancaman bagi kelangsungan periuk nasinya.

    Maka, ia menciptakan aturan main yang ketat, seperangkat kesopanan yang membuat penonton tetap diam di tempatnya.

    Tutup mata.

    Tutup mulut.

    Jika ada penonton lancang yang mencoba memeriksa bagian bawah kotak kayu, sang pesulap akan segera mencapnya sebagai perusak keharmonisan.

    Aturan formal itu dibuat bukan untuk menjaga keindahan seni sulap, melainkan untuk melestarikan kuasa tunggal sang pesulap atas kebenaran semu.

    Kini, lompatlah sebentar ke gedung-gedung tinggi berpendingin udara di Sudirman, atau ke podium-podium politik yang riuh di televisi.

    Di sana, pesulap yang sama muncul dengan kostum yang berbeda.

    Mereka mengenakan jas mahal, tetapi menggunakan trik yang sama.

    Kotak kayu berganti meja rapat. Tikar pandan berubah menjadi podium.

    Kain hitam menjelma layar presentasi. Namun, tangannya tetap bekerja dengan cara yang serupa: satu mengalihkan perhatian, satu lagi menyembunyikan sesuatu.

    Nama mentereng dari permainan baru itu: seni mengelola citra.

    Di sinilah permainan itu memperoleh nama yang terdengar begitu terhormat.

    Dalam Filsafat Moral: Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia, Agustinus W. Dewantara mengingatkan bahwa etika tidak dapat disamakan dengan etiket.

    Etiket berurusan dengan kepantasan lahiriah, sedangkan etika membawa pertanyaan lebih jauh: apa yang membuat suatu tindakan sungguh baik.

    Etiket ibarat tata cara memegang garpu perak saat menjamu tamu, sementara di dapur belakang para koki sedang saling menjegal.

    Etika berbeda.

    Etika menuntut manusia bertindak baik secara menyeluruh.

    Ia menyentuh motivasi batin dan mengantar manusia pada pertanyaan yang lebih sulit: bukan sekadar bagaimana bertindak dengan pantas, melainkan bagaimana menjadi baik.

    Persoalannya, di tangan para pemoles citra, etika diperas menjadi sekadar bedak kosmetik.

    “Gincu” dalam bahasa sehari-hari adalah kosmetik untuk mempercantik tampilan luar.

    Karena itu, “Etika Gincu” adalah sebuah pembacaan terhadap praktik ketika etika kehilangan kedalaman moralnya dan direduksi menjadi etiket: sopan santun luar yang digunakan untuk memoles wajah kebohongan agar terlihat patut dan menawan.

    Polesan itu tebal sekali.

    Di balik keindahan kosmetik tersebut, pembusukan tatanan sosial berjalan secara diam-diam.

    Lee Thayer, dalam On the Uses of Communication, mengingatkan bahaya penyalahgunaan bahasa.

    Sepanjang sejarah manusia, penyalahgunaan bahasa (misuses of language) dapat menjadi salah satu hulu dari kehancuran tatanan sosial dan dekadensi moral.

    Bahasa yang semestinya mempertemukan kesadaran batin justru dipelintir menjadi alat tipu-tipu.

    Menyamarkan polesan itu dengan label “kode etik” yang agung di atas kertas adalah salah satu bentuk manipulasi bahasa.

    Siasat manipulatif itu dirancang untuk menutupi kebobrokan tindakan nyata yang amis.

    Ketika ruang hidup warga dirusak, pertanggungjawaban moral semestinya hadir bersama tindakan nyata.

    Namun, tidak jarang yang lebih dahulu tampil justru gerakan defensif untuk menyelamatkan citra, reputasi, dan kepentingan.

    Bahasa tanggung jawab kemudian menggantikan tanggung jawab itu sendiri.

    Pernyataan resmi menggantikan tindakan.

    Konferensi pers menggantikan pertanggungjawaban.

    Dan permintaan maaf kadang-kadang hanya menjadi tata cara untuk meminta maaf tanpa sungguh-sungguh merasa bersalah.

    Persoalan yang sama muncul dalam ruang digital.

    Kebebasan berekspresi di ruang digital mengalami nasib yang tidak kalah mengenaskan.

    Para penguasa platform menciptakan algoritma yang menyaring informasi sesuai dengan selera pasar.

    Di ruang digital, kesantunan terus dikhotbahkan sebagai syarat utama percakapan.

    Tetapi kesantunan itu kadang justru menjadi cara baru untuk membungkam suara-suara sumbang dari pinggiran.

    Yang dianggap mengganggu ketenangan sistem segera disebut tidak santun.

    Yang mempertanyakan kebijakan disebut pembuat gaduh.

    Yang membongkar kontradiksi disebut pencari perkara.

    Sementara mereka yang paling mahir mengemas kebohongan dengan bahasa santun justru dipuji sebagai komunikator yang baik.

    Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar benar atau salah dalam memilih kata. Persoalannya adalah hubungan antara bahasa dan kekuasaan.

    Ketika kata-kata kehilangan jangkar moralnya, komunikasi runtuh menjadi sekadar transmisi kebisingan yang kosong makna.

    Etika komunikasi  yang diajarkan di universitas pun berisiko terjebak menjadi panduan kosmetik: bagaimana berbicara dengan baik, bagaimana mengelola reputasi, bagaimana menyusun pesan krisis, dan bagaimana meminta maaf tanpa harus mengubah tindakan yang menyebabkan krisis itu.

    Dalam retorika klasik Aristoteles, persuasi bekerja melalui logos, ethos, dan pathos. Persoalannya muncul ketika ethos—yang semestinya bertumpu pada kredibilitas—cukup dibangun melalui pencitraan.

    Kebenaran objektif atau truth pun berisiko tergeser oleh apa yang disebut Stephen Colbert sebagai truthiness: sesuatu yang dianggap benar bukan karena benar, melainkan karena terasa benar, nyaman, dan sesuai dengan kepentingan.

    Di sinilah “gincu” bekerja paling sempurna.

    Ia tidak perlu menghapus kebohongan.

    Ia cukup membuat kebohongan tampak sopan.

    Socrates harus meminum racun di Athena bukan karena ia tidak sopan, melainkan karena pertanyaan-pertanyaannya mengganggu keyakinan dan kepentingan yang mapan.

    Ia memilih menjadi pengganggu—menyengat kuda lelah bernama kekuasaan—dan menuntut pertanggungjawaban atas setiap kata yang diucapkan.

    Ia menolak ikut dalam permainan sulap kekuasaan pada zamannya.

    Socrates tidak menawarkan gincu.

    Ia menawarkan pertanyaan.

    Dan pertanyaan, bagi kekuasaan yang nyaman, selalu merupakan benda yang berbahaya.

    Di ruang publik hari ini, para pencari makna yang berani mengusik permainan bahasa para pesulap digital pun dapat mengalami nasib serupa.

    Mereka dicap sebagai pencari perkara.

    Sebaliknya, para pesulap yang mahir bersilat lidah terus mendapat tepuk tangan.

    Komunikasi akhirnya berisiko kehilangan daya pembebasnya. Ia tidak lagi menjadi jalan untuk membebaskan manusia dari distorsi bahasa, melainkan berubah menjadi ilmu kadal tingkat tinggi untuk melanggengkan dominasi yang kuat atas yang lemah.

    Komunikasi tidak lagi dipakai untuk membuka tabir.

    Ia dipakai untuk membuat tabir tampak indah.

    Matahari sore di Pasar Baru mulai meredup, meninggalkan bayang-bayang panjang di atas tikar pandan.

    Sang pesulap melipat tikarnya, mengantongi uang receh dari para penonton yang pulang dengan kepala kosong tetapi hati terhibur.

    Pertunjukan telah selesai.

    Kebohongan telah dirayakan.

    Penonton kembali merayap masuk ke dalam kehangatan bulu kelinci yang membius.

    Besok, pertunjukan yang sama akan diulang kembali dengan trik yang lebih rapi.

    Mungkin kotaknya akan dibuat lebih indah.

    Mungkin kain hitamnya akan diganti dengan layar LED.

    Mungkin tikarnya akan berubah menjadi panggung konferensi pers.

    Mungkin pecinya diganti jas.

    Tetapi tangannya tetap sama.

    Satu tangan mengalihkan perhatian.

    Satu tangan lagi bekerja diam-diam.

    Karena kuasa selalu membutuhkan kabut tebal untuk menyembunyikan tangannya yang kotor.

    Selama penonton lebih terpukau oleh gincu daripada ingin tahu apa yang disembunyikan di baliknya, pertunjukan itu tak akan pernah kehilangan penonton.

  • Algoritma, Alter Ego, dan Hilangnya Toto Kromo

    Peradaban tidak dibangun oleh kecanggihan teknologi yang memecah belah dan mengeksploitasi, melainkan oleh martabat yang terus dipelihara. – Mahatma Gandhi

    Di laut lepas, seorang pelaut yang berpengalaman tahu bahwa arah tidak pernah ditentukan oleh satu alat saja. Kompas memang penting, tetapi bisa juga keliru.

    Ia membaca angin, menimbang arus, mengamati awan, bahkan memperhatikan burung-burung yang melintas rendah.

    Jarum yang tampak mantap kadang bergeser oleh tarikan yang tak kasatmata. Sedikit saja penyimpangan arah, kapal bisa kehilangan pelabuhan.

    Laut mengajarkan satu hal yang sederhana: petunjuk teknis berguna, tetapi keputusan akhir tetap memerlukan kewaspadaan manusia.

    Pelajaran itu terasa ganjil, tetapi justru selaras untuk hidup manusia hari ini.

    Sebab manusia modern sedang memegang kompas baru bernama algoritma.

    Semakin banyak hal dipercayakan kepadanya. Apa yang dibaca, apa yang ditonton, siapa yang didengar, ke mana perhatian diarahkan, bahkan bagaimana dunia dinilai.

    Pada mulanya semua tampak baik-baik saja.

    Kecerdasan artifisial alias akal imitasi hadir sebagai alat bantu. Ia merapikan pekerjaan, mempercepat pengolahan data, menghemat waktu, dan membuat banyak urusan menjadi lebih praktis. Di hadapan segala keterbatasan manusia, teknologi datang seperti pelayan yang cekatan.

    AI bekerja dengan cara yang pada dasarnya sangat manusiawi: mengamati, mengenali pola, lalu menirukan. Ia memproses data dalam jumlah besar, merekam kecenderungan, dan menyusun prediksi berdasarkan kebiasaan yang terbaca. Dengan kecepatan yang jauh melampaui manusia, ia belajar dari jejak perilaku manusia sendiri.

    Karena itu, pertanyaan tentang AI sebenarnya bukan pertama-tama pertanyaan teknis. Ini adalah pertanyaan tentang manusia. Tentang sejauh mana manusia bersedia menyerahkan penilaian, perhatian, bahkan sebagian kebebasannya kepada mesin yang bekerja berdasarkan pola, bukan kebijaksanaan.

    Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Algoritma bukan sekadar alat hitung. Ia juga membentuk medan sosial. Ia menentukan apa yang tampak dan apa yang tenggelam. Ia mengurutkan kepentingan, menonjolkan suara tertentu, dan mengaburkan yang lain. Yang sering dianggap netral, dalam praktiknya kerap memuat logika seleksi yang tidak sepenuhnya terbuka.

    Di titik itulah persoalannya tidak lagi teknis. Ia menjadi persoalan nyata. Soal bagaimana manusia membaca dirinya sendiri ketika alat yang diciptakannya mulai diam-diam menentukan arah hidupnya.

    Manusia sering membanggakan diri sebagai makhluk yang makin terhubung.

    Padahal, boleh jadi yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang hadir di banyak ruang, tetapi tidak sungguh-sungguh mendarat di mana pun. Kedekatan tampak terbangun, tetapi perjumpaan yang utuh justru makin jarang terjadi.

    Di ruang siber, manusia membangun diri kedua.

    Sosok itu menjelma menjadi avatar yang lebih berani, lebih tajam, lebih cerewet, lebih cepat menghakimi. Dari balik layar, makian dapat dilontarkan dengan ringan, seolah-olah kata-kata tidak pernah punya akibat moral.

    Namun di dunia nyata, tidak sedikit yang justru membeku.

    Tatapan mudah turun ke layar. Percakapan makin kikuk. Keberanian yang melimpah di kolom komentar mendadak menguap ketika seseorang harus hadir sebagai manusia yang utuh di hadapan manusia lain.

    Di sinilah alter ego menemukan panggungnya.

    Cyberspace menjanjikan kebebasan, tetapi juga menyediakan labirin. Orang merasa bisa menjadi siapa saja, mengatakan apa saja, dan lepas dari beban tanggung jawab. Padahal, yang sering terjadi justru fragmentasi diri.

    Manusia seperti hidup dalam teater yang ramai, tetapi batinnya sunyi.

    Masalahnya tidak berhenti pada soal citra diri. Ia merembet ke cara manusia berelasi. Bahasa menjadi singkat, keras, dan fungsional. Sapaan dianggap basa-basi. Penghormatan dinilai memperlambat. Kehangatan dipotong agar semua serba sat-set.

    Lalu hilanglah sesuatu yang dulu menopang pergaulan: toto kromo.

    Toto kromo bukan sekadar sopan santun dalam arti permukaan. Ia bukan tempelan moral untuk acara resmi. Ia menjaga agar komunikasi tidak jatuh menjadi semata-mata pertukaran data. Ia adalah struktur halus yang membuat seseorang sadar bahwa bahasa bukan hanya alat menyampaikan maksud, melainkan juga ruang memelihara martabat.

    Ya, di dalam toto kromo, ada pengakuan terhadap martabat.

    Ada jarak yang patut. Ada pilihan kata yang menandai kesadaran etis. Ada kehati-hatian agar komunikasi tidak berubah menjadi tabrakan kepentingan.

    Ketika itu hilang, yang rusak bukan cuma bahasa.

    Yang rusak adalah kepekaan.

    Maka muncullah gejala yang semakin lazim: orang sulit membedakan mana gurauan, mana keseriusan; mana teguran, mana penghinaan; mana penderitaan sungguhan, mana sekadar tontonan yang lewat di linimasa. Banyak orang bisa tertawa pada sesuatu yang mestinya menyayat hati, tetapi sekaligus bisa marah berlebihan untuk perkara yang sangat fana.

    Lebih celaka lagi, dunia digital juga mengubah watak pergaulan. Di sinilah toto kromo mulai rontok.

    Di ruang daring, orang mudah sekali menjadi pemberani dadakan. Mulutnya galak, jarinya lincah, etikanya kempes. Salam hilang. Perkenalan hilang. Hormat tinggal formalitas yang dianggap ribet. Pesan-pesan berubah menjadi potongan komando, singkatan akalan-akalan, dan bahasa ringkas tetapi miskin rasa. Seolah-olah manusia cukup hadir sebagai notifikasi.

    Ini bukan sekadar soal sopan santun. Ini soal struktur batin.

    Toto kromo, dalam pengertian yang paling hidup, bukan cuma tata cara berbicara. Ia adalah teknologi sosial yang lebih tua dan lebih cerdas daripada aplikasi mana pun. Ia mengajarkan jarak yang patut, penghormatan yang tidak dibuat-buat, dan kesadaran bahwa orang lain bukan tombol yang bisa ditekan sesuka hati.

    Namun dalam logika platform, relasi semacam itu dianggap lambat. Lagi-lagi pasar memang suka yang gesit.

    Semua harus instan, singkat, langsung jadi. Bahkan empati pun ingin dipercepat. Padahal, justru yang manusiawi sering bekerja lewat jeda, basa-basi, dan kehati-hatian. Dunia digital cuci tangan dengan bilang itu tidak efisien.

    Yang paling ironis, semua ini datang dengan wajah progresif.
    Seolah-olah yang lambat pasti kalah.

    Ini bukan semata-mata krisis etiket.

    Ini krisis afeksi.

    Algoritma bekerja bukan hanya dengan menghitung, melainkan juga dengan membiasakan. Ia merekam apa yang diklik, apa yang ditahan lebih lama, apa yang diulang, apa yang memancing marah, takut, atau penasaran. Dari sana ia membangun ruang mental tempat manusia tinggal setiap hari.

    Akal imitasi pelan-pelan dibentuk oleh sejarah kliknya sendiri.

    Karena itu, relasi manusia dengan teknologi modern tidak sesederhana hubungan tuan dan alat. Hubungan itu lebih mirip relasi timbal balik yang tidak seimbang. Manusia merasa memakai mesin, padahal diam-diam mesin ikut menyusun ulang kebiasaan, emosi, dan orientasi hidup.

    Akibatnya tidak selalu dramatis.

    Ia datang perlahan, justru karena terlalu nyaman. Manusia makin praktis, tetapi belum tentu makin reflektif. Segalanya makin cepat, tetapi belum tentu makin bijak. Koneksi makin rapat, tetapi empati belum tentu ikut menguat.

    Lihat saja kegelisahan-kegelisahan kecil yang kini terasa wajar.

    Sinyal internet berputar-putar sedikit, orang panik. Listrik padam sejenak, seolah pegangan hidup ikut terputus. Layar meredup, seisi hari terasa terganggu. Tetapi menurunnya kualitas percakapan, mengeringnya kepedulian, dan merosotnya kedalaman batin nyaris tidak menimbulkan kepanikan yang sama.

    Di situlah candu modern bekerja paling halus.

    Bukan dengan memaksa, melainkan dengan meninabobokan.

    Sebagian kalangan menyebut fase ini sebagai gejala posthumanisme: suatu keadaan ketika kebanggaan manusia sebagai subjek otonom mulai terkikis oleh sistem otomatisasi. Mesin tidak lagi hanya membantu kerja tubuh, tetapi juga mengambil alih fungsi-fungsi yang dulu dianggap khas manusia: mengingat, memilih, merangkum, menilai, bahkan menyusun kata-kata.

    Maka pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan lagi apakah mesin akan menjadi semakin cerdas.

    Itu sudah terjadi.

    Pertanyaannya adalah: apakah manusia masih cukup sadar untuk menjaga dirinya tetap manusia?

    Dalam tradisi Jawa, ada nasihat ngeli ananging ora keli—mengalir mengikuti arus, tetapi tidak hanyut olehnya. Manusia tidak diminta menolak zaman. Yang dituntut hanyalah agar manusia tidak menyerahkan seluruh dirinya kepada zaman.

    Nasihat itu terasa penting justru ketika segala hal bergerak terlalu cepat.

    Sebab modernitas sering menyamarkan penaklukan sebagai kemudahan. Yang disebut efisiensi tidak selalu netral. Yang tampak praktis tidak selalu memuliakan manusia. Yang terasa canggih tidak otomatis membuat peradaban menjadi lebih beradab.

    Hari ini orang mulai membicarakan kemampuan mesin membaca ekspresi, mengenali emosi, memetakan kecenderungan psikologis, bahkan menebak niat lewat data biometrik dan pola perilaku. Mesin tidak lagi sekadar merekam tindakan, tetapi berambisi menyingkap isi kepala.

    Jika itu benar-benar menjadi kenyataan, persoalannya jauh lebih besar daripada soal privasi.

    Ia menyentuh inti kebebasan manusia.

    Apa jadinya jika kelak algoritma lebih piawai membaca wajah manusia daripada manusia membaca nuraninya sendiri?

    Apa jadinya jika topeng sosial yang dipakai setiap hari dapat dibuka satu per satu oleh sistem yang diciptakan manusia sendiri?

    Barangkali, di situlah ironi terbesar zaman ini.

    Manusia membangun teknologi untuk memperluas kuasa, tetapi bisa saja berakhir dengan mengerdilkan kemanusiaannya sendiri.

    Karena itu, yang perlu dijaga pada akhirnya bukan hanya kecanggihan alat.

    Melainkan keberanian untuk tetap menempatkan teknologi sebagai sarana, bukan sebagai hakim diam-diam atas hidup manusia.

    Kecerdasan teknis memang diperlukan. Tetapi lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah kewaspadaan moral, disiplin batin, dan kesadaran bahwa tidak semua yang bisa dihitung layak menentukan arah manusia.

    Kita tentu tidak bisa pura-pura kembali ke zaman layar perahu.
    Itu romantisme murahan.

    Tetapi kita juga tidak wajib menyerahkan kompas batin kepada mesin.

    AI boleh dipakai sebagai alat. Ia tidak boleh naik pangkat menjadi ukuran tunggal tentang apa yang penting, apa yang patut, dan siapa yang layak didengar.

    Di tengah banjir otomatisasi, manusia justru harus lebih sadar untuk tetap menjadi manusia.

    Laut selalu menguji pelaut pada satu hal: apakah ia masih bisa membaca langit ketika kompas mulai bohong?

    Sekarang pertanyaan itu kemanusiaan yang memegang jawabannya.